Jumat, 18 Desember 2015

Studi dan Spiritualitas: Teman atau Lawan

Studi dan Spiritualitas: Teman atau Lawanby  Felicia Pennali Lawson
Pemuda GRII Bandung

Manusia diciptakan sebagai hamba Kebenaran, karena itu “belajar” tidaklah mungkin terlepas dari hidup kita. Belajar sering diidentikkan dengan suatu kegiatan studi secara formal dari bangku sekolah hingga perkuliahan. Hal ini tentu saja tidak sepenuhnya benar, karena manusia juga belajar dan memperoleh nilai-nilai kebenaran dan kehidupan dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang tidak didapat secara formal untuk dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan sekitarnya. Kegiatan belajar atau studi formal biasanya berawal dari rasa ingin tahu dan kebutuhan akan pengertian akan alam ciptaan Tuhan sehingga manusia mulai melakukan observasi, meneliti, dan menghasilkan hipotesis yang nantinya berkembang menjadi pengetahuan. Selain itu, manusia juga dapat belajar dengan mencari seseorang yang mempunyai pengertian yang melebihi dirinya untuk menjawab rasa ingin tahunya. Inilah proses pembelajaran yang kelihatan secara kasat mata.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, esensi dari kegiatan studi ini semakin kabur. Kegiatan studi yang awalnya berangkat dari kekaguman dan keingintahuan yang besar akan ciptaan Tuhan, telah berubah menjadi suatu kegiatan yang membosankan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja, dan ujung-ujungnya, untuk memuaskan hawa nafsu manusia itu sendiri. Manusia yang dulunya menikmati waktu studi sebagai wadah untuk memperdalam pengertian dan pengetahuannya, telah bergeser menjadi manusia yang ‘terpaksa’ studi dan menganggapnya sebagai batu loncatan untuk mewujudkan keinginannya menjadi kaya.
Bagaimana dengan orang Kristen? Seluruh dunia dengan rasa keingintahuannya menatap pada orang Kristen – yang katanya melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah – bagaimana kita berespons terhadap hal ini. Namun celakanya, banyak orang Kristen zaman sekarang yang juga jatuh pada lubang yang sama. Studi hanya diperlukan untuk menyelesaikan kebutuhan kita akan masalah masa depan kita di dunia ini. Maka, studi hanyalah bersifat duniawi. Sedangkan urusan sorga, masalah spiritualitas, segala kegiatan gerejawi tidak ada kaitannya dengan studi yang duniawi ini. Benarkah demikian? Apakah sebenarnya studi itu? Untuk apa kita harus studi? Apakah studi dan spiritualitas saling berkaitan?
Apa itu Studi?
Dalam bahasa Yunani, kata ‘schole’ berarti ‘leisure’, ‘a school’ atau dapat diartikan ‘a place for leisure’. Kata ‘leisure’ di sini bukan berarti waktu luang tanpa melakukan apa pun seperti yang kita mengerti hari ini. Bagi orang Yunani, ‘leisure’ berarti kebebasan untuk mengejar pengetahuan, dan yang bisa melakukan hal ini hanyalah kaum elitis Yunani yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk pengejaran pengetahuan dan perenungan. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, “We work in order to be at leisure.” Mereka adalah kelompok masyarakat yang mengesampingkan rutinitas harian mereka, dan waktu luang yang ada dipakai untuk studi, berdiskusi, dan merenung. Kemudian, seiring dengan perkembangannya, sekolah formal dibentuk dengan tujuan agar penduduk lainnya juga dapat menikmati kesempatan ‘leisure’ ini, mendedikasikan waktu luang mereka untuk mengejar pengetahuan.
Berbeda pada zaman ini, studi dianggap sebagai beban yang sangat berat dan karena studilah, “waktu luang” kita menjadi berkurang. Waktu luang yang kita artikan sebagai waktu untuk bersenang-senang, bermalas-malasan, melakukan kegiatan yang tidak berguna atau bahkan cenderung tidak melakukan apa-apa. Kembali kepada definisi semula, kita seharusnya sadar ketika kita studi, kita sedang mendedikasikan waktu luang kita untuk menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya yang Tuhan bukakan bagi kita dan menanggapinya dengan rasa syukur. Dan bagaimana keinginan untuk menggali pengetahuan itu bisa muncul? Philosophy begins in wonder.
Sebagai orang Kristen, kita mengerti segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan. Pengertian ini seharusnya memunculkan kekaguman akan ciptaan Tuhan yang menjadi langkah awal untuk studi dan mendorong kita untuk terus studi dengan sungguh-sungguh tanpa bosan. Rasa kagum dan takjub akan keajaiban karya Tuhanlah yang seharusnya menjadi dasar dan awal untuk menggali pengetahuan dan memuji kebesaran-Nya.
Untuk Apa Kita Studi?
“Kamu ngapain kuliah?”
“Supaya cepet kaya lah.”
“Yang penting cepat-cepat lulus terus dapat gelar.” 

Manusia zaman sekarang dididik untuk berusaha seminimal mungkin dengan memperoleh hasil yang maksimal dalam waktu yang seinstan mungkin. Seluruh hasilnya kemudian digunakan untuk menikmati hidup dengan senikmat-nikmatnya. Tujuan dari seseorang studi bukanlah karena mencintai pengetahuan dan memenuhi panggilan Tuhan, tetapi karena semata-mata ingin sukses, artinya ingin kaya, mampu menikmati apa saja yang diinginkan, dan terkenal. Studi dipandang sebagai suatu wadah untuk mengejar pemuasan hawa nafsu manusia, terutama keserakahan untuk selalu memiliki lebih dan rasa tidak pernah puas yang menggerogoti manusia. Tanpa disadari, manusia telah memperalat Tuhan dan pengetahuan yang Tuhan ciptakan demi keinginannya sendiri yang berdosa.
Studi juga dapat membawa seseorang mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari orang lain. Manusia – yang diciptakan dengan identitas begitu mulia sebagai peta dan teladan Allah – ketika jatuh dalam dosa, berada dalam krisis identitas. Kehilangan identitas akibat keberdosaannya menjadikan manusia terus mencari identitas “baru” di luar Tuhan. Identitas baru ini sering didapatinya melalui penilaian dan pengakuan yang kosong dan rapuh dari sesama orang berdosa yang kehilangan identitas. Manusia tanpa identitas sejati membangun identitasnya di atas pengakuan manusia tanpa identitas sejati. Pengakuan ini memberikan kebanggaan sekaligus ketidakamanan dalam diri manusia karena manusia tersebut sadar bahwa pengakuan itu sewaktu-waktu dapat hilang dari dirinya dan berpindah ke orang lain. Maka benarlah ungkapan dari Bapa Gereja Agustinus yang menyatakan, “The honors of this world, what are they but puff, and emptiness, and peril of falling?” Penghormatan manusia diibaratkan sebagai asap dan kekosongan, bahkan sesuatu yang sangat berbahaya yang menjatuhkan manusia.
Jadi, mengapa studi? Ada yang menjalankannya hanya karena sekadar kewajiban. Ketika kita melihat orang lain studi maka kita pun ikut studi tanpa mengetahui apa tujuannya. Studi hanya dianggap sebagai suatu tahapan dalam hidup yang harus dijalani dan merupakan standar atau syarat untuk melangkah ke tahapan hidup selanjutnya, seperti bekerja, sehingga ‘terpaksa’ harus dijalani. Jika hal ini benar, manusia tidak akan benar-benar mengejar pengetahuan. Akhirnya manusia menjadi sangat miskin di dalam pengetahuan dan pengenalannya akan Allah melalui ciptaan.
Studi dan Spiritualitas
Seperti dikatakan di atas, studi dan spiritualitas sering dilihat sebagai dua hal yang bertolak belakang atau yang tidak ada hubungannya. Studi sebagai kegiatan yang bersifat duniawi sedangkan spiritualitas sebagai kegiatan yang bersifat rohani. Pemikiran dualisme seperti ini tidaklah benar. Ini adalah jebakan yang diberikan oleh zaman modern, di mana pengetahuan dan iman dipisahkan, seakan-akan keduanya tidak bisa saling bersentuhan. Alkitab menyatakan bagaimana seluruh hidup kita adalah pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, artinya tidak ada bagian dari hidup kita yang tidak bersifat spiritual, demikian juga studi.
Lebih jauh lagi, studi kita seharusnya membawa kita semakin mengenal Allah. Justru melalui studi akan alam kita seharusnya semakin mengenal Allah Sang Pencipta. Hal ini tidak lagi terjadi dikarenakan oleh dosa manusia yang membutakan. Manusia berdosa tidak lagi mampu melihat wahyu Allah (wahyu umum) di dalam alam karena kebutaannya. Karena itulah, wahyu khusus dibutuhkan untuk menjadi kacamata bagi manusia dalam melihat wahyu umum. Jikalau mata sudah tidak lagi dapat melihat benar, maka dipastikan bahwa studi manusia akan membawanya bukan kepada pengetahuan sejati, melainkan kepada kepalsuan atau kesesatan dalam ilmu dan akhirnya akan menjadi kecelakaan bagi manusia. Melalui wahyu khusus Allah, kita dimampukan kembali melihat dengan benar sesuai apa yang diciptakan Tuhan. Kita diberikan kerangka yang benar, ketajaman dalam melihat, dan kebijaksanaan dalam menerapkannya. Kita melihat bahwa baik spiritualitas (dalam hal ini pengetahuan akan wahyu khusus Allah) maupun studi (pengejaran akan wahyu umum Allah) tidak bisa dipisahkan.
Kesimpulan
Akhirnya kita melihat bahwa melalui studi, seharusnya kerohanian kita juga semakin bertumbuh karena kita sedang mengenal Allah melalui ciptaan-Nya, mengenal sifat-sifat Allah yang tercermin dalam keberagaman hukum-hukum alam beserta seluruh makhluk ciptaan-Nya, ditambah lagi akan pengharapan eskatologis di mana di langit dan bumi yang baru kita masih terus menjalankan mandat budaya dengan menggali dan mengembangkan pengetahuan di bidang kita masing-masing. Kiranya kita semakin sungguh-sungguh dalam menekuni studi kita dengan benar, memiliki tujuan yang benar, yaitu mengerjakan panggilan Tuhan atas hidup kita di zaman ini dengan setia meskipun ada harga yang harus dibayar, dan mensyukuri anugerah bahwa kita diizinkan Tuhan untuk berpartisipasi dalam mengelola ciptaan Tuhan serta menikmati keindahan dan keajaiban ciptaan Tuhan yang akhirnya membawa kita kepada pengenalan akan Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi.
Felicia Pennali Lawson
Pemuda GRII Bandung

Laporan Baca: Memahami Perjanjian Baru

Laporan Baca
MEMAHAMI PERJANJIAN BARU - John Drane
by Wahyu A. Setiadi




Perjanjian Baru adalah kumpulan kitab-kitab yang dituliskan pada masa setelah kematian Yesus. Perjanjian Baru ditulis oleh beberapa orang yang diantaranya mereka adalah murid-murid Yesus dan orang-orang yang terdekat dengan murid-murid Yesus. Perjanjian Baru itu sendiri merupakan karya penyingkapan Allah atas umat-Nya, sehingga melaluinya manusia semakin mengenal Allah dengan benar dan lebih dalam. Allah memakai orang-orang yang dipilih-Nya untuk menuliskan maksud hati-Nya, yaitu melalui pekerjaan Roh Kudus yang berkarya dalam hidup orang-orang yang dipilih-Nya. Salah satu orang yang dipilih-Nya adalah Paulus. Allah memanggil Paulus untuk menjadi rasul-Nya dan Allah memakai Paulus dengan luar biasa. Sebagian besar kitab-kitab dalam Perjanjian Baru ditulis oleh Paulus, yaitu mulai dari kitab Roma sampai kepada kitab Filemon yang berjumlah 13 buah kitab. Walaupun Paulus memiliki latar belakang yang buruk, yaitu sebagai penganiaya orang percaya, namun setelah pertobatannya, ia begitu peduli dan mengasihi orang-orang percaya. Hal tersebut ditunjukkan melalui perjuangan kerasnya dalam penginjilan dan pelayanan baik kepada orang-orang yang belum percaya maupun kepada jemaat-jemaat Tuhan di berbagai wilayah. Kegigihannya sebagai hamba Kristus menjadikan dirinya sendiri sebagai sebuah teladan bagi orang-orang percaya. Dalam sebuah buku yang berjudul Memahami Perjanjian Baru yang dituliskan oleh seorang teolog akademik bernama John Drane, membahas mengenai konteks dan latarbelakang penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru. Salah satu topik yang akan disoroti adalah tema tentang kehidupan Paulus dan kisah pelayanannya. Pembahasan John Drane sendiri bersifat historis-teologis, yang artinya selain mengulas data dan memberi analisa mengenai bukti-bukti sejarah ia juga mengantarkan pembaca untuk memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi ke dalam sudut pandang teologis. Buku yang ditulis oleh John Drane ini ditujukan untuk kalangan luas, dalam arti bukan saja untuk para teolog, pendeta, atau mahasiswa teologi, melainkan juga kepada para pembaca awam yang tergerak untuk menggumulkan relevansi Perjanjian Baru dalam konteks masa kini, dan memang tujuan ini sepertinya telah tercapai, dimana Drane berhasil membuat keseimbangan antara tulisan yang tidak begitu rumit namun tanpa menghilangkan kedalaman pembahasan.
                Dalam salah satu tema besar buku Drane, digambarkan secara jelas mengenai riwayat kehidupan Paulus beserta seluruh pelayanannya termasuk kitab-kitab yang ditulisnya. Terlihat juga  bagaimana Drane menjelaskan hubungan Paulus dengan agama Yahudi, dengan para filsuf, dengan agama-agama rahasia, dengan jemaat mula-mula, dengan Yerusalem, dan dengan ajaran Yesus yang bertujuan untuk menyatakan prinsip-prinsip yang dipegang oleh Paulus. Drane menunjukkan bahwa Paulus sendiri bukanlah seorang pribadi yang mencoba untuk mendirikan sebuah agama baru seperti anggapan beberapa pihak, melainkan dengan cermat menunjukkan bahwa Paulus mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan ajaran Yesus. Memang walaupun Paulus tidaklah hidup bersama-sama dengan Yesus, namun Paulus bersama-sama dengan murid-murid Yesus yang tentunya menceritakan pengajaran-pengajaran yang telah diajarkan Yesus kepada mereka. Dan walaupun dalam tulisannya Paulus tidak merujuk langsung kepada pengajaran Yesus, seperti yang diungkapkan Drane bahwa ada nasehat-nasehatnya yang sangat dekat dengan pengajaran Yesus antara lain: kasih kepada musuh, kasih pada Allah dan sesama, ajaran tentang makanan hal dan haram, dan tanggung jawab terhadap negara (303).
                Kemudian Drane, mencoba mengarahkan pembaca untuk melihat latarbelakang penulisan kitab-kitab Paulus melalui perjalanan misioner yang dilakukan oleh Paulus. Kitab-kitab yang dituliskan oleh Paulus ini sendiri adalah sebuah surat yang dituliskan dengan konteks tertentu kepada jemaat atau seorang percaya. Drane secara teliti membedah pokok-pokok isi yang terkandung dalam setiap surat-surat Paulus, memberikan informasi-informasi penting berdasarkan konteksnya, dan menanggapi isu-isu yang sering diperbincangkan oleh para teolog. Salah satu isu yang diperbincangkan adalah mengenai masalah kepenulisan surat-surat Pastoral dimana dianggap sebagai bukan tulisan dari Paulus. Tuduhan tersebut didasarkan pada gaya bahasa dan kosa kata yang berbeda antara surat-surat pastoral dengan surat-surat yang ditulis Paulus sebelumnya . Ada seorang teolog yang mencoba menunjukkan bahwa surat-surat Pastoral merupakan ciri-ciri tulisan penulis Kristen abad kedua (399). Namun Drane berpendapat bahwa hal itu hanyalah dimungkinkan karena masalah pembahasan yang berbeda, Paulus memakai sekretaris yang lain, ada perevisian sehingga gaya bahasa Yunaninya bisa lebih baik, dan bapa-bapa gereja mula-mula pun juga mendukung bahwa Paulus memiliki peranan dalam penulisan surat-surat Pastoral (400).
                Menariknya Drane juga membahas tentang strategi dari pelayanan Paulus. Paulus yang adalah rasul dan hamba Kristus begitu bersemangat dalam memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya, dan ia mampu meraih keberhasilan dimana banyak orang yang pada akhirnya percaya kepada Yesus dan hal tersebut semata-mata karena penyerahan diri Paulus kepada Tuhan dan membiarkan kuasa Roh Kudus bekerja dalam hal apapun yang ia kerjakan. Disisi lain Drane juga memaparkan topik-topik penting seperti pandangan Paulus tentang kebebasan dan kematian, jemaat Kristen dan perkembangannya, iman Kristen, hukum taurat. Pemikiran Drane begitu jelas dan sistematis, sehingga menolong pembaca untuk mendapatkan konsep-konsep yang dapat diingat oleh pembaca. Bahasa yang digunakan pun tidak terlalu sulit, sehingga tanpa mengurangi kualitas pembahasan suatu topik, buku ini pun dapat digunakan untuk  orang awam yang rindu menyelidiki Perjanjian Baru dengan lebih mendalam. Tampaknya Drane berhasil memikat pembaca dengan studi-studi khusus yang hampir selalu ia berikan disetiap bab. Studi-studi khusus itu menolong pembaca untuk mendalami isu-isu tertentu yang sering diperbincangkan.
                Kualitas dari buku yang ditulis John Drane ini sangat kaya akan informasi sehingga mampu memberikan wawasan-wawasan baru terhadap latar belakang Perjanjian Baru. Data-data serta bukti-bukti sejarah mampu memberikan pembaca suatu wawasan dan hal-hal informative yang berharga, sedangkan pembahasan secara teologis menolong pembaca untuk membuat suatu refleksi atas topik-topik yang dibahas. John Drane membuat suatu analisa yang komprehensif atas tema-tema penting dalam Perjanjian Baru, sehingga pembaca dapat memperoleh banyak keuntungan dalam membaca bukunya. Selain surat-surat Rasul Paulus juga dibahas surat dan kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru yang disajikan dengan segar  dengan membahas isu-isu yang sering didiskusikan.
                Salah satu topik yang juga menarik yang dibahas Drane adalah tentang iman dan perbuatan. Paulus yang cenderung menekankan iman diperbandingkan dengan Yakobus yang menyatakan bahwa pada dasarnya pembenaran bukan hanya karena iman tetapi juga oleh perbuatan. Kedua Rasul ini tampaknya memiliki pandangan yang berbeda dan bertentangn, tetapi Drane melihat dari sisi yang lain dimana kedua hal itu sebetulnya tidak bertentangan melainkan berbeda dalam konteksnya. Paulus bermaksud menegor pihak-pihak di jemaat Galatia yang beranggapan bahwa hukum Taurat dapat membenarkan diri sendiri. Sedangkan Yakobus menegor pihak-pihak yang menggemakan iman namun tidak ada implikasi praktis dalam kehidupannya. Pembahasan topik ini menerangkan kembali hal yang penting yaitu tidak memisahkan iman dan perbuatan, karena keduanya harus berjalan bersama-sama.
                Setelah membaca buku ini saya memiliki kekaguman akan setiap surat-surat dan kitab-kitab yang memiliki keunikan dan pergumulannya masing-masing.  Buku ini bagi saya adalah sebuah referensi yang tepat untuk digunakan sebagai keperluan membuat suatu kotbah, studi PA, dan bahan untuk studi Perjanjian Baru. Nilai minus di buku ini adalah tidak adanya footnote yang memberi rujukan bahan-bahan lain yang digunakan oleh Drane. Harga buku yang terjangkau tampaknya membuat buku Drane ini menjadi salah satu pilihan utama bagi para pembacanya. Akhinya saya telah mendapatkan banyak keuntungan dari buku ini dengan menggunakan apa yang telah didapat di dalam kotbah-kotbah saya.
               

                              

Rabu, 09 Desember 2015

Predestinasi (Pemilihan oleh Allah sesuai rencana kekal-Nya)

Teologia Proper
Predestinasi
oleh: Wahyu A. Setiadi

A. Pendahuluan

Topik tentang “Predestinasi” adalah salah satu topik yang paling sering mengundang diskusi  khususnya di dalam konteks pemikiran Kristen sepanjang sejarah. Perbedaaan pemahaman tentang ajaran pemilihan ini seringkali menimbulkan konflik di dalam gereja. Kelompok-kelompok seperti Calvinisme dan Arminianisme merupakan dua kubu yang berada pada garis yang saling bersilangan dan yang tidak mungkin lagi didamaikan. Meskipun keduanya sama-sama setuju dengan doktrin Predestinasi yang terdapat dalam Alkitab, namun keduanya memiliki pengertian yang berbeda atas doktrin tersebut. Sehingga terkadang banyak perdebatan yang dilakukan oleh para teolog menjadi suatu hal yang kurang efisien, oleh karena tidak saling berusaha mencari solusinya melainkan tetap bersikukuh dalam memegang pandangannya. Pada dasarnya kedua kubu tersebut memiliki argumen yang sama kuatnya didukung oleh ayat-ayat Alkitab, tetapi keduanya memiliki penekanan yang berbeda terhadap bagian-bagian dalam Alkitab.
Istilah Predestinasi muncul khususnya di dalam  perjanjian baru dan Rasul Paulus menggunakan istilah predestinasi untuk menunjuk kepada maksud pemilihan Allah bagi umat-Nya. Namun demikian di dalam PL pun juga  ada topik mengenai hal itu.  Predestinasi sendiri merupakan topik yang termasuk di dalam ranah ketetapan dan pertimbangan Allah. Yakub Susabda dalam bukunya “Mengenal dan Bergaul dengan Allah”  memberikan pembahasan mengenai topik predestinasi tersebut dan penulis akan menggunakan buku tersebut sebagai sumber utama di dalam tulisan ini. Susabda memberikan bukti-bukti baik di dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB) dimana Allah sendiri bertindak untuk memilih sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam PL tindakan Allah tentang pemilihan-Nya  dapat disaksikan melalui contoh-contoh seperti, Ia berkenan kepada Habil kemudian memilih keturunan Set, dan menolak turunan Kain (Kej. 4:25-26, 5:1-32, 4:17-24). Ia membenci Esau dan mengasihi Yakub dan Israel keturunannya (Kej 25:23, Rom. 9:11-12) (220). Allah kemudian menyingkapkan pikiran-Nya untuk diketahui umat-Nya melalui hukum-hukum yang diberikan-Nya kepada mereka, dan sampai pada suatu waktu tertentu Ia sendiri menyingkapkan apa yang sebetulnya menjadi tujuan-Nya yaitu keselamatan yang dijanjikan melalui Mesias. Keselamatan itu sendiri bukanlah berdasarkan pemilihan kelompok tetapi pemilihan pribadi. Oleh karena itu orang Israel tidak dapat mengklaim dengan sendirinya bahwa mereka pasti selamat tanpa memiliki iman atau percaya pada janji Allah. Demikian juga dalam PB, Rasul Paulus memanggil jemaat sebagai orang-orang pilihan Allah (Kol. 3:11). Sehingga bilamana di dalam PL ditunjukkan mengenai pemilihan Allah terhadap bangsa Israel, maka di dalam PB Allah dengan cara yang lebih jelas lagi menyatakan kehendak-Nya. Yaitu Ia bukan memilih suatu kelompok, melainkan pribadi-pribadi (Mat. 24:31, Luk 18:7, Kis. 13:48, Rom. 8:33) (222).   Dengan demikian, bukti-bukti tersebut sekaligus mau menyatakan bahwa konsep predestinasi adalah konsep yang  secara jelas diajarkan di dalam Alkitab.
B. Pengertian Predestinasi
                Pemilihan atau yang biasa disebut dengan Predestinasi merupakan tindakan Allah dalam mempertimbangkan dan menetapkan suatu pemilihan bagi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk memberinya suatu anugerah keselamatan. Sedangkan menurut John Sailhamer, “In the popular mind, the term Predestination usually means the decree of God whereby he determined in eternity past the destinity of all of humankind, both the saved and the lost.”[1] Penentuan atas pemilihan tersebut telah terjadi sejak semula di dalam kekekalan (Roma 8:29). Kata yang dipakai oleh Rasul Paulus dalam Roma 8 tersebut adalah (Yunani “προοριζω“ – predestinate). Susabda mengatakan bahwa Allah yang memilih dan menetapkan itu semata-mata didasarkan atas kasih dan anugerah-Nya serta menurut pertimbangan-Nya sendiri, tanpa melandasakannya pada perbuatan dan kebaikan manusia (Mark 13:20, Kis 9:15, 13:17) (222). Oleh karena dalam Roma 3:9-20 sendiri dikatakan mengenai identitas manusia yang telah rusak, dimana tidak ada seorangpun yang berbuat benar dan mencari Allah. Namun dalam keadaan yang seperti demikian, Allah justru menunjukkan kasih-Nya melalui anak-Nya yang telah mati ketika manusia masih berdosa. Jadi konsep pemilihan adalah merujuk kepada suatu anugerah yang sebetulnya tidak layak diterima oleh manusia.



C. Perkembangan Konsep Predestinasi dalam Sejarah
Doktrin Predestinasi sebetulnya sudah ada sejak zaman bapa-bapa gereja, meskipun pada gereja mula-mula tidak membahas mengenai hal ini karena berfokus pada aspek-aspek praktis Injil tentang bagaimana berita sukacita dibagikan. Pemikiran gereja mula-mula tentang kebebasan manusia meresponi Anugerah Allah, kemudian dikembangkan lagi melalui suatu konsep theologi dengan lebih rinci oleh Pelagius, yaitu seorang tokoh yang mewakili gereja-gereja timur (Abad 4-5). Ia berpandangan bahwa manusia itu memiliki ‘free will’,  sebab hanya dengan memiliki hal itulah manusia dapat memiliki tanggung-jawab. Dan kebebasan yang ia miliki menyebabkan ia mampu memilih serta juga merealisasikan pilihannya. Pelagius percaya bahwa keselamatan dari Allah diperoleh manusia dengan kesadarannya memilih untuk menerima berita Injil, sementara jika manusia menolak maka konsekuensinya adalah binasa. Singkatnya Pelagius percaya bahwa manusia bisa menentukan nasibnya sendiri (224). Kemudian pandangannya dikembangkan lagi oleh John Cassianus. Ia berpandangan bahwa kejatuhan manusia telah melumpuhkan dirinya tetapi bukan berarti manusia tidak bisa apa-apa, ia memang sakit dan tidak bisa menolong dirinya sendiri, namun ia masih bisa menerima obat, yaitu keselamatan dari Allah. Pandangan ini seolah-olah telah memasukkan konsep predestinasi, namun pada dasarnya masih tergantung sikap manusia. Pandangan ini disebut sebagai Semi-Pelagianisme (225). Menurut Susabda pemikiran seperti itu belum konsisten dengan Alkitab walaupun argumentasinya di dasarkan pada beberapa ayat Alkitab, sehingga Susabda kemudian berusaha merujuk kepada pandangan Agustinus yang kemudian dipakai oleh Calvin dimana buah-buah pikiran yang merupakan hasil pergumulannya lebih konsisten dengan apa yang diajarkan Alkitab.  Menurut Agustinus, manusia yang telah mati di dalam dosa tidak punya “will” untuk percaya kepada Injil, karena itu Allah memberi “grace” kepada mereka supaya mereka mampu meresponi berita tentang keselamatan di dalam Injil. Grace yang diberikan Allah ada beberapa tahapan, yaitu prevenient grace (yang menghidupkan will manusia), cooperating grace (anugerah untuk bekerja sama dengan Roh Kudus), sufficient grace (anugerah untuk terus memelihara hal baik yang telah dimulainya) dan efficient grace (anugerah untuk hidup dalam kebenaran yang dipercayainya). Sehingga dapat disimpulkan bahwa keselamatan itu hanyalah karena anugerah (226). Pandangan Agustinus ini diterima oleh Gereja khususnya di Barat kecuali pandangannya tentang double-predestination, yaitu pandangan bahwa Allah sejak mula menetapkan sebagian orang untuk diselamatkan dan sisanya dibinasakan. Konsep mengenai predestinasi sendiri sebetulnya juga dipegang oleh kaum Lutheran, yaitu mereka percaya bahwa keselamatan adalah anugerah namun mereka menolak ekses yang bisa timbul bila dirumuskan dengan lebih jelas tentang konsep predestinasi oleh sebab hal itu akan menimbulkan kegelisahan dalam hati nurani manusia (230). Doktrin pemilihan ini selalu dikaitkan dengan Calvinis atau Reformed, meski realitanya beberapa teolog reformed sendiri memiliki pandangan yang berbeda. Ada beberapa tokoh Reformed yang memilih pandangan moderat, yaitu mereka memulainya dengan anugerah Allah dalam Kristus, dimana pengetahuan pemilihan tentang Allah digunakan untuk semakin meneguhkan iman orang percaya dan mendorong mereka agar selalu mengucap syukur (232). Jadi sebagaimana Calvin sendiri mengikuti konsep Agustinus mengenai double-predestination, maka hal tersebut telah menjadi bahan perdebatan, bahkan menjadi persoalan yang mengusik hati nurani manusia. Namun disatu sisi, pandangan Semi-Pelagianisme yang akhirnya dihidupkan kembali oleh Jacob Arminius yang adalah tokoh dari Arminianisme, tidaklah konsisten dengan Alkitab karena hanya menekankan “free will” manusia dan mengabaikan Allah sebagai penentu anugerah.
D. Tanggapan
                Konsep predestinasi adalah hal yang sulit untuk dipahami. Sewaktu pertama kali mengetahui doktrin ini dalam ajaran Calvin maka ada dua hal yang tampak seperti kontradiksi dan membingungkan yaitu disatu sisi pemilihan itu semata-mata didasarkan oleh kasih Allah kepada manusia yang berdosa, namun disisi lain kebinasaan orang-orang yang tidak terpilih membuat keadilan Allah dipertanyakan. Jika Allah maha kasih mengapa Allah hanya memilih sebagian dan yang lain dibiarkan untuk binasa? Pergumulan akan doktrin ini seringkali memaksa penulis untuk memikirkan konsekuensi logis mengenai predestinasi. Yaitu jika Allah memberikan anugerah keselamatan hanya kepada beberapa orang (karena realitanya tidak semua orang), maka yang lain tentunya akan binasa (apakah Tuhan menentukan orang untuk binasa?), bukankah Allah tidak menghendaki seorangpun binasa (1 Pet. 3:9) ? Pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya adalah keinginan penulis untuk merasionalisasikan hal-hal yang sulit untuk dipahami, sehingga akhirnya penulis terjebak ke dalam suatu keadaan dimana fokus dan tujuan penulis telah berubah. Penulis mengambil sikap yang keliru ketika akhirnya mempertanyakan keadilan Tuhan, oleh karena Allah memiliki atribut-atribut yang kompleks yang tentunya tidak hanya menekankan salah satu sisi dari atribut-Nya saja. Keinginan untuk mengerti hal-hal yang “diluar pengertian”  atau “dalam konteks kekekalan” adalah hal yang sebetulnya kurang bijak, sebab rasio manusia yang terbatas tak mampu mengertu hakekat Allah yang tak terbatas dan logika pikir yang terikat dengan hukum sebab-akibat yang terikat ruang dan waktu tidak berlaku dalam kekekalan. Maka hal yang memungkinkan  adalah  mengalami pengalaman-pengalaman iman walaupun  tidak pernah selesai memahaminya.
                Namun, penulis akhirnya sangat menyetujui solusi yang diberikan Susabda bahwa hal yang penting adalah mampu memahami dua konteks yang berbeda, yaitu kairos dan kronos, sebab tanpa memahami perbedaan keduanya maka tidak menutup kemungkinan bahwa hal-hal yang berada di dalam konteks kairos dituntut untuk dimengerti semua dalam konteks kronos (walau ada sedikit penyingkapan tentang hal-hal dalam konteks kairos), dan sebaliknya hal-hal yang sebetulnya berkaitan dengan konteks kairos seperti, pertimbangan dan keputusan Allah digunakan untuk mendukung hal-hal yang ditemukan pada konteks kronos.
                Selanjutnya adalah masalah paradoks antara predestinasi dan free will. Kedua hal ini juga sulit dimengerti. Jika Allah telah menetapkan maka, sepertinya tanggung jawab manusia menjadi hilang karena apa yang ditetapkan Allah itulah yang pasti akan terjadi. Berkhof memberi contoh suatu  pandangan yaitu bahwa doktrin ini menyingkirkan semua motif bagi usaha manusia. Jika Allah telah menetapkan, maka seseorang tidak perlu memikirkan masa depannya bahkan tidak perlu usaha apa-apa untuk memperoleh keselamatannya.[2] Menurutnya ini adalah pandangan yang salah, tetapi doktrin “Once saved always saved” sendiri memang mudah sekali disalah-pahami.  Sebetulnya Alkitab sendiri mengajarkan paradoks, contohnya ketika Paulus mengatakan “Kerjakanlah keselamatanmu… (menekankan free will), kemudian ia melanjutkan “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu,… menurut kerelaan-Nya”. (Filipi 2:12-13). Jadi meskipun Allah telah memberikan suatu jaminan akan keselamatan, suatu tanggung jawab tetaplah dituntut dari manusia, karena tujuan keselamatan yang diberikan adalah termasuk juga proses pengudusan yang menjadikan-Nya semakin serupa dengan Kristus, yang artinya ada perjuangan untuk menundukkan diri agar taat terhadap bimbingan Allah. Susabda dalam persoalan ini memberi solusi bahwa tidak mungkin predestinasi Allah terjadi kalau Ia tidak memakai sarana-sarana yang mewujudkan ketetapan-Nya yang ada disana, dan sarana itu adalah ‘kehendak bebas’ (251). Berkhof juga menambahkan bahwa suatu ketetapan dari Allah itu meneguhkan satu intra-hubungan antara sarana dan hasil akhir, dan hasil akhir ditetapkan hanya sebagai hasil dari sarana, ketetapan ini mendorong adanya usaha dan bukan melemahkan usaha itu.[3]  Namun begitu banyak orang percaya juga salah memahami konsep ini, oleh sebab mereka menganggap bahwa ketika Allah menetapkan dan hal itu diwujudkan dalam free will manusia, maka seolah-olah manusia hanyalah sebagai robot yang dikendalikan oleh Allah supaya rencana-Nya terwujudkan. Tetapi sanggahan ini malah membuktikan ketidakpahaman mengenai konsep anugerah. Sebab, orang  percaya menurut Agustinus diberi anugerah yang merawat kehendaknya supaya kembali mencintai kebenaran secara bebas.[4] Hal ini berhubungan erat dengan kondisi manusia setelah kejatuhan yang ‘will’ nya sudah rusak, dan cenderung kepada berbuat yang tidak benar di hadapan Allah (Roma 3:9-12). Oleh karena itu Allah memberi anugerah untuk membebaskan manusia dari perbudakan kuasa dosa yang cenderung menghasilkan perbuatan-perbuatan kedagingan. Jadi predestinasi dan free will tidaklah bertentangan, dan manusia bukanlah robot, keselamatan adalah suatu jaminan kekal dari Allah.
                Dengan demikian, penulis ingin menyimpulkan bahwa Predestinasi adalah suatu ketetapan Allah dimana orang percaya seharusnya mengambil sikap yang positif, yaitu meresponinya dengan ucapan syukur dan kerendahan hati atas kemurahan Allah yang telah diberikan. Penulis setuju dengan apa yang dikatakan oleh  Schaeffer bahwa, “The proper response to this mystery should not be intellectual frustration or artificial harmonizations but rather an attitude of humility, reverence, and worship.”[5] Penulis juga berusaha menyediakan ruang untuk hal-hal yang tidak pernah dipahami oleh rasio, dan tidak berusaha untuk mengertinya, melainkan berfokus kepada pengenalan akan Allah melalui pengalaman-pengalaman iman yang semakin memperkaya dan memperdalam spiritualitas kehidupan di dalam Kristus.


DAFTAR PUSTAKA

Berkhof, Loius. Teologi Sistematika: Doktrin Allah. Diterjemahkan oleh Yudha Thianto Surabaya: Momentum, 1993.

R. Burson, Scott and Walls, Jerry L.  C.S Lewis & Francis Schaeffer: Lessons for a New Century From The Most Influential Apologists. Downners Grove: InterVarsity Press, 1998.

Sailhamer, John H.  Christian Theology. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1998.
Susabda, Yakub B. Mengenal dan Bergaul dengan Allah. Batam Centre: Gospel Press, 2002.
Urban, Linwood. Sejarah Ringkasan Pemikiran Kristen. Diterjemahkan oleh Liem Sien Kie Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.


[1] John H. Sailhamer, Christian Theology (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1998), 35.
[2] Loius Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, terj. Yudha Thianto (Surabaya: Momentum, 1993), 194.
[3] Loius Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, 195.
[4] Linwood Urban, Sejarah Ringkasan Pemikiran Kristen, terj. Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 237.
[5] Scott R Burson and Jerry L. Walls, C.S Lewis & Francis Schaeffer: Lessons for a New Century From The Most Influential Apologists (Downners Grove: InterVarsity Press, 1998), 88.

Kotbah Eksposisi: Kasih dan Keadilan Allah (Hakim-Hakim 2:6-23)



KOTBAH EKSPOSISI
Hakim-Hakim 2:6-23
“Kasih dan Keadilan Allah”
oleh: Wahyu A. Setiadi

I. Pendahuluan

Kitab Hakim-hakim adalah kitab yang digolongan dalam kategori kitab sejarah. Sejarah yang diceritakannya adalah mengenai kisah pendudukan Kanaan yang belum selesai dan para pahlawan yang dipanggil Allah untuk meneruskan perjuangan itu.[1] Kitab Hakim-hakim kemungkinan dituliskan oleh Samuel namun para sarjana sendiri pun juga belum dapat menyatakannya secara pasti oleh sebab tidak ada keterangan yang jelas mengenai siapa penulis kitab tersebut. Yang pasti kitab ini dituliskan dalam suatu konteks dimana bangsa Israel pada waktu itu sedang mengalami kekosongan pemimpin dan kemudian Tuhan membangkitkan orang-orang yang dipilih-Nya untuk melepaskan umat-Nya dari penindasan bangsa-bangsa lain. Pemimpin ini bukanlah pemimpin seperti Raja atau seperti Musa maupun Yosua, melainkan seorang pemimpin yang menolong Israel untuk melepaskan diri dari penjajahan bangsa-bangsa lain. Pemimpin tersebut tidaklah memimpin keseluruhan umat Israel seperti yang dilakukan oleh Musa dan Yosua, melainkan hanya di salah satu daerah bagian saja, sedangkan di bagian daerah yang lain dipegang oleh pemimpin yang lain, dan pemimpin-pemimpin ini disebut sebagai “Hakim”. Walaupun kitab ini disebut sebagai kitab sejarah tetapi isi di dalam kitab ini penuh dengan pesan-pesan teologis yang menunjuk kepada hubungan antara Allah dengan kondisi umat-Nya pada zaman itu.

Alkitab menggambarkan Allah adalah Allah yang penuh kasih, namun disisi lain Allah juga adalah Allah yang kudus sehingga oleh kekudusan-Nya, setiap dosa dan pemberontakan tidak pernah  lepas begitu saja dari penghukuman-Nya. Meskipun demikian penghukuman Allah itu selalu di dasarkan atas tindakan kasih, yaitu seperti kasih bapa yang memberikan hukuman kepada anaknya jika anaknya tersebut melakukan perbuatan yang salah. Kitab Hakim-hakim adalah salah satu kitab yang menunjukkan hal-hal tersebut, dimana kemurahan dan belas-kasihan Allah ditunjukkan walaupun umat-Nya telah memberontak dan menyakiti hati-Nya. Penulis kitab secara khusus juga ingin memberitahukan bahwa  Allah akan memberkati umat-Nya jika mereka taat dan setia kepada-Nya. Namun kemudian akan menghukum jika mereka mengabaiakan segala perintah Tuhan.
                                                                                        



II. Struktur dan Latar belakang perikop

A.    Struktur Perikop

1.      Kilas balik (6-10)
2.      Pemurtadan umat Allah (11-13)
3.      Murka Yahweh kepada umat-Nya (14-15)
4.      Anugerah yang tidak layak diterima (16)
5.      Perbudakan yang terus berkelanjutan (17-19)
6.      Hasil dari permurtadan yang berkelanjutan (20-23)

            Menurut W. Gary Philips pasal 1 kitab Hakim-hakim memberitahukan fakta-fakta kemerosotan bangsa Israel selama zaman kegelapan pada masa Hakim-hakim yaitu sejarah-sejarah apa yang terjadi. Sedangkan Hakim-hakim pasal 2 adalah menunjuk pada maksud theologisnya, dan memberikan alasan mengapa hal tersebut dapat terjadi sekaligus sebagai pengantar untuk memasuki siklus awal yaitu hakim Otniel.[2] Hakim-hakim 2 diawali dengan komunikasi antara Bangsa Israel dengan Allahnya, yang melihat kembali pada masa Yosua dimana sebuah teladan telah ditetapkan, dan merupakan gambaran dari apa yang akan terjadi di masa mendatang, serta berakhir dengan apa yang terjadi ketika orang Israel melakukan hal-hal yang dilarang oleh Tuhan.[3] Komunikasi perjumpaan dengan Tuhan tersebut berada di Bokhim, dimana Tuhan mengingatkan kembali mengenai perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan mereka yang telah dilanggarnya. Hal tersebut terjadi setelah Yosua meninggal, dimana pada waktu itu munculah generasi-generasi baru yang tidak takut akan Tuhan dan memberontak kepada-Nya (ay. 6-10). Oleh karena itu Tuhan tidak mau menghalau musuh-musuh mereka dan membiarkan musuh-musuh tersebut hidup di tengah-tengah mereka dengan tujuan untuk menguji ketaatan mereka yaitu apakah mereka tetap hidup sesuai jalan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka (ay. 22-23).

III. Eksposisi
            Bangsa Israel adalah umat pilihan Allah dimana Allah menyatakan interaksi dan yang berkomunikasi secara dekat kepada mereka. Namun Bangsa Israel sendiri terkadang kurang menyadari bahwa mereka adalah umat yang istimewa sehingga tidak mengindahkan kasih dan kemurahan Allah yang telah diberikan kepada mereka. Salah satu bagian Alkitab yang menggambarkan keadaan tersebut adalah dalam kitab Hakim-hakim (2:6-23). Dalam perikop ini ada hal-hal penting yang menggambarkan kasih setia Tuhan kepada bangsa yang tegar tengkuk.

Ayat 6-10
When Joshua had dismissed the people, the sons of Israel went each to his inheritance to possess the land. The people served the Lord all the days of Joshua, and all the days of the elders who [d]survived Joshua, who had seen all the great work of the Lord which He had done for Israel. Then Joshua the son of Nun, the servant of the Lord, died at the age of one hundred and ten. And they buried him in the territory of his inheritance in Timnath-heres, in the hill country of Ephraim, north of Mount Gaash. 10 All that generation also were gathered to their fathers; and there arose another generation after them who did not know the Lord, nor yet the work which He had done for Israel.” NASB.
When Joshua had dismissed the people…” Setelah Yosua telah berhasil dalam melakukan penakhlukannya, maka orang Israel disuruh untuk pergi ke daerah yang telah menjadi bagian mereka masing-masing, namun demikian mereka masih harus menghalau sisa-sisa musuh yang ada yang tidak terbunuh pada waktu peperangan dan menduduki daerah tersebut. Namun ternyata hanya beberapa suku yang menghalau sisa-sisa musuh dan berhasil menduduki daerah mereka. Dalam bagian ini diceritakan mengenai kondisi umat Tuhan yang tetap setia selama pada zaman Yosua dan para tua-tua hidup. Menurut Gary Philips, bagian ini megingatkan kembali apa yang telah ditulis dalam Yosua 24:28-30 (ay. 6-9).[4]  who did not know the Lord, nor yet the work which He had done for Israel.” Generasi baru tersebut hanya mengenal Tuhan secara pengetahuan, dan belum pernah melihat sendiri karya Tuhan seperti yang Tuhan sendiri tunjukkan kepada generasi-generasi yang sebelumnya. Disini ada suatu ketidaklancaran dalam meneruskan kebenaran firman Tuhan kepada generasi yang selanjutnya. Para imam gagal mengajarkan semua ketetapan-ketetapan Tuhan yang diberikan melalui Musa kepada bangsa Israel (ay.10).[5]

Ayat 11-13

“11 
Then the sons of Israel did evil in the sight of the
Lord and served the Baals, 12 and they forsook the Lord, the God of their fathers, who had brought them out of the land of Egypt, and followed other gods from among the gods of the peoples who were around them, and bowed themselves down to them; thus they provoked the Lord to anger. 13 So they forsook the Lord and served Baal and the Ashtaroth.” NASB
                                                                       
Then the sons of Israel did evil in the sight of the Lord. Frase tersebut digunakan sebanyak enam puluh kali dalam Perjanjian Lama, dan delapan kali dalam Kitab Hakim-hakim. Frase ini juga dihubungkan di dalam Maleakhi 2:17, dimana Nabi menuduh sekelompok orang yang disebut orang percaya. Ia mengatakan bahwa mereka telah menyusahi Tuhan dengan anggapan mereka bahwa setiap orang yang berbuat jahat di mata Tuhan adalah baik. Istilah “kejahatan” disini mengacu kepada pelanggaran terhadap perintah Allah yang disengaja, dan bukan karena melanggar sesuatu yang di luar kesadarannya, melainkan melanggar apa yang sebelumnya ia sendiri berjanji untuk tidak melanggarnya.[6] And served the Baals. Baal adalah dewa kesuburan yang dengan menyembahnya dianggap akan mendatangkan kesuburan bagi manusia, hewan, dan hasil ladang (ay. 11). Forsook the Lord, the God of their fathers. Umat Israel telah melupakan apa yang telah diajarkan oleh nenek moyangnya. Mereka meninggalkan Tuhan yang telah membawa nenek moyang mereka keluar dari Mesir. Frase “Followed other gods from among the gods” berarti Bangsa Israel telah berpaling kepada allah-allah lain, Leon Morris mengatakan bahwa seharusnya semua bukti-bukti dari tradisi mereka membuat mereka untuk setia, tetapi mereka malah berpaling kepada para dewa dari orang-orang yang ada di tengah-tengah mereka, yang agamanya terkesan langsung memperhatikan kesejahteraan mereka.[7] “Provoked the Lord to anger” berarti perilaku bangsa Israel tersebut membangkitkan kemarahan Tuhan. Hal yang ironi adalah bangsa Israel menyembah allah bangsa kanaan yang hanya terbuat dari logam, batu dan kayu, sementara itu Tuhan sendiri adalah pencipta dari material-material itu, dan hal ini menyebabkan Tuhan menjadi marah (ay. 12).[8] Bangsa Israel “....served Baal and the Ashtaroth”. Ashtaroth adalah dewi kesuburan pasangan Baal (ay.13).

Ayat 14-15                                                                                           

14 The anger of the Lord burned against Israel, and He gave them into the hands of plunderers who plundered them; and He sold them into the hands of their enemies around them, so that they could no longer stand before their enemies. 15 Wherever they went, the hand of the Lord was against them for evil, as the Lord had spoken and as the Lord had sworn to them, so that they were severely distressed.” NASB

            Perbuatan bangsa Israel menjadikan TUHAN murka sehingga menghukum mereka dengan cara diserahkan  kepada musuh-musuhnya yang ada ditengah-tengah mereka yaitu bangsa yang tidak dihalau oleh mereka. TUHAN memakai bangsa itu sebagai alat untuk melampiaskan murka-Nya (ay 14). Ia bertindak sesuai dengan keadilan-Nya dan menunjukkan kepada umat-Nya bahwa ketidaktaatan yang mereka lakukan sesungguhnya selalu membawa mereka kepada penghukuman Tuhan. Bangsa yang tidak dihalau oleh mereka ternyata menjadi lawan yang menindas mereka dan penindasan yang dilakukan kepada bangsa Israel adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri yang memilih menjauh dari segala perintah-perintah-Nya (ay. 15). Dalam perlawanan terhadap musuh-musuh-Nya, bangsa Israel selalu mengalami kekalahan, oleh sebab Tuhan sendirilah yang membuat kekalahan itu, bahkan Tuhan yang menyerahkan umat-Nya kepada para musuh mereka. Penghukuman Tuhan begitu keras hingga mereka tertekan dan terjepit di dalam keadaannya. Wiersbe mengatakan bahwa hal ini adalah merujuk kepada apa yang pernah dikatakan oleh Musa dan akan terjadi yaitu musuh-musuh Israel pada akhirnya menjadi tuan atas mereka (Ul. 28:25). Tuhan mengijinkan satu demi satu bangsa untuk menyerang tanah perjanjian dan memperbudak umat-Nya yang membuat hidup mereka begitu sengsara hingga mereka berteriak minta tolong kepada-Nya.[9]

Ayat 16

16 Then the Lord raised up judges who delivered them from the hands of those who plundered them.

            Perbuatan yang telah dilakukan bangsa Israel yaitu beribadah kepada berhala mengakibatkan mereka jatuh ke dalam pengadilan Allah. Di dalam penghukuman itu mereka mengalami tekanan yang akhirnya membuat mereka sadar dan membutuhkan Allah. Allah menolong mereka dengan membangkitkan hakim-hakim dan dalam hal ini mengingatkan bahwa Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada orang yang tidak layak menerimanya. Demikian pula menurut W.L Alexander yang mengatakan bahwa ini adalah tanda dari kekayaan belas kasihan Allah.[10]  Dalam bahasa Ibrani kata “judge” memiliki arti “to save, to rescue”. Para hakim yang adalah penyelamat memenangkan kemenangan militer yang besar dan pertolongan Tuhan dan para hakim ini jugalah yang menjadi pemimpin yang menolong orang Israel menyelesaikan masalahnya.[11] Menariknya penulis menempatkan ayat 16 tersebut yang berbicara tentang belas kasihan Allah setelah di ayat 15 yang konteksnya adalah hukuman Allah yang sedang diberikan kepada bangsa Israel. Kedua ayat ini begitu kontras dan secara eksplisit menggambarkan karakter Allah sendiri dimana di satu sisi Ia adalah adil sedangkan di sisi yang lain Ia juga mengasihi.



Ayat 17-19

17 Yet they did not listen to their judges, for they played the harlot after other gods and bowed themselves down to them. They turned aside quickly from the way in which their fathers had walked in obeying the commandments of the Lord; they did not do as their fathers. 18 When the Lord raised up judges for them, the Lord was with the judge and delivered them from the hand of their enemies all the days of the judge; for the Lord was moved to pity by their groaning because of those who oppressed and afflicted them. 19 But it came about when the judge died, that they would turn back and act more corruptly than their fathers, in following other gods to serve them and bow down to them; they did not abandon their practices or their stubborn ways.”

            Keterlibatan bangsa Israel dalam penyembahan berhala merupakan salah satu dosa yang dianggap Tuhan sebagai perzinahan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengabaikan segala perintah yang telah diberikan Tuhan kepada nenek moyang mereka (ay. 17). Pertolongan Tuhan ternyata tidaklah membuat mereka semakin takut kepada-Nya. Hal ini dibuktikan dalam tindakan mereka yang semakin jahat ketika hakim yang memimpin mereka telah meninggal (ay. 19). Padahal Tuhan telah berbelas kasihan terhadap mereka dimana hakim yang dipakai Tuhan tersebut menyelamatkan mereka dari tangan musuh-musuhnya (ay. 18), namun sayangnya mereka tidak lagi menghargai akan hal itu dan cenderung mengikui keinginan mereka sendiri. Perbuatan bangsa Israel ini memicu murka Tuhan yang akan menghukum mereka kembali oleh karena ketidaktaatan yang mereka pilih sendiri. Akibatnya bangsa Israel tetap dalam belenggu penindasan musuh-musuhnya.

Ayat 20-23

20 So the anger of the Lord burned against Israel, and He said, “Because this nation has transgressed My covenant which I commanded their fathers and has not listened to My voice, 21 I also will no longer drive out before them any of the nations which Joshua left when he died, 22 in order to test Israel by them, whether they will keep the way of the Lord to walk in it as their fathers did, or not.” 23 So the Lord allowed those nations to remain, not driving them out quickly; and He did not give them into the hand of Joshua.

            Akibat dari kebebalan bangsa Israel adalah Tuhan tidak mau menolong bangsa Israel untuk menghalau musuh-musuh mereka lagi. Bangsa Israel telah melanggar perjanjian terhadap Tuhan karena itu Tuhan membiarkan musuh-musuh yang tinggal di tengah-tengah mereka untuk mencobai mereka. Sedangkan F. Duane Linsey mengatakan bahwa ada empat alasan mengapa Tuhan membiarkan bangsa Kanaan tetap tinggal di tengah-tengah umat Israel, yaitu: Untuk menghukum Israel atas kemurtadannya dalam penyembahan berhala, untuk menguji kesetiaan iman mereka kepada Tuhan, Tuhan memberikan pengalaman kepada mereka dalam berperang, untuk mencegah tanah Kanaan menjadi padang gurun sebelum penduduk Israel meningat dan cukup untuk menempati seluruh negeri.[12]


Poin Homilitik
           
            Kondisi bangsa Israel pada waktu setelah meninggalnya Yosua adalah ditunjukkan dengan semakin merosotnya kehidupan moral mereka dan tentang mereka dikatakan bahwa mereka melakukan apa yang jahat dimata Tuhan (Hak. 2:11). Tindakan mereka menimbulkan murka Tuhan namun disisi lain Tuhan memiliki belas kasihan terhadap mereka oleh karena mereka adalah umat-Nya dan Tuhan telah memegang perjanjian dengan nenek moyang mereka yang tentunya tidak akan pernah diingkari oleh-Nya. Kesetiaan Tuhan tersebut menunjukkan integritas-Nya bahwa Ia adalah Allah yang memegang teguh perjanjian yang telah dibuat-Nya (Maz 89:28). Dalam Hakim-hakim pasal 2 ini ada pelajaran penting untuk diambil yaitu mengenai kasih dan keadilan Allah. Persoalannya berangkat dari sebuah pandangan yang terlalu menekankan sisi kasih Allah dan mengabaikan sisi keadilan Allah. Padahal Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa Allah yang kasih bukan berarti Allah yang tidak pernah menghukum. Kasih dan keadilan Allah selalu berjalan dengan seimbang dan tidak pernah terpisah-pisah.

A. Allah yang kasih bukanlah Allah yang memanjakan (ay 6-15)

            Bangsa Israel adalah bangsa yang mendapatkan hak istimewa daripada bangsa-bangsa yang lain. Tuhan telah mengikat suatu perjanjian terhadap nenek moyang bangsa Israel yaitu Abraham. Di dalam perjanjian itu terdapat berkat-berkat yang dijanjikan Tuhan untuk diberikan kepada keturunan Abraham yaitu Israel. Kemudian, bukti kasih setia dan pemeliharaan Tuhan adalah ketika Ia mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir dan waktu  itu banyak sekali mujizat-mujizat yang telah Tuhan lakukan untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang menyelamatkan dan memelihara mereka. Sebagai umat Allah, mereka mendapatkan perlakuan yang khusus. Namun perjanjian Tuhan selain tidak bersyarat,  juga mengandung syarat. Yaitu jikalau mereka taat maka mereka akan diberkati, sedangkan jika tidak mereka akan mendapat hukuman. Berkaitan dengan kondisi umat Israel setelah meninggalnya Yosua, dimana umat Israel melakukan apa yang jahat dan melupakan Tuhan (Hak. 10-11) maka Tuhan harus menyatakan keadilan-Nya. Ia tetap menjaga integritas-Nya sebagai Allah. Akhirnya, Tuhan mememberikan hukuman kepada bangsa Israel dengan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh mereka, sehingga mereka tertindas dan menderita melalui hal itu.

B. Belas kasihan yang diberikan pada umat yang tidak layak (ay. 16).

            TUHAN adalah Allah yang mengerti keadaan dan kebutuhan umat-Nya. Ia mengetahui apa yang dirasakan umat-Nya ketika mereka sedang menderita. Dalam konteks perikop tersebut walaupun Ia murka melihat kejahatan yang dilakuakan oleh umat-Nya yaitu mereka telah berzinah dengan menyembah berhala namun Tuhan tetap menunjukkan belas kasihan kepada umat Israel. Ia membangkitkan orang-orang yang dipilih-Nya untuk menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka (ay. 16). Ia menyatakan pertolongan-Nya disaat mereka betul-betul tidak berdaya untuk menghadapi lawan-lawan mereka. Bangsa Israel sebagai umat-Nya tentunya harus meresponi kebaikan Tuhan ini melalui ketaatan terhadap segala perintah-Nya, mereka harus mau bertobat dan kembali beribadah kepada Tuhan.

C. Kasih yang mendidik yang tercermin dalam keadilan-Nya (ay. 17-23).

            Segala sesuatu pelanggaran memiliki konsekuensinya. Dalam hal ini umat Israel telah melanggar perjanjian dengan Tuhan. Allah yang adil, adalah Allah yang menghukum akan setiap pelanggaran yang mencoba untuk mengabaikan kekudusan Allah. Hukuman Allah ada karena akibat dari dosa. D.A Carson mengatakan bahwa hukuman Allah adalah implikasi kekudusan Allah melawan dosa. Tuhan menghukum Israel dengan cara tidak mau menolong menghalau musuh-musuhnya (Hak. 2:21). Namun ini adalah sebuah tujuan Allah untuk mendidik bangsa Israel. Didikan itu diwujudkan melalui ujian melalui bangsa-bangsa disekitarnya yang akan mempengaruhi mereka beribadah kepada allah-allah lain. Yaitu apakah mereka tetap setia atau tidak memagang imannya.

KESIMPULAN
Allah adalah Allah yang kasih sekaligus adil. Dalam kasih-Nya, Ia memelihara dan menyelamatkan umat-Nya, Dalam PB Kasih Allah dinyatakan melalui anak-Nya yang tunggal. Disi lain, keadilan Allah dinyatakan melalui hukuman-hukuman kepada umat-Nya. Hukuman juga merupakan suatu didikan, dan didikan adalah suatu bukti kasih Allah kepada umat-Nya (Ibrani 12:6). Ketika Allah mengasihi bukan berarti Ia tidak menghukum, dan sebaliknya juga ketika Allah menghukum Ia tidak pernah kehilangan kasih-Nya. Jadi kasih dan keadilan Allah itu selalu berjalan seimbang.
DAFTAR PUSTAKA


Alexander, W.L.  The Book of Judges dalam The Pulpit Commentary ed. H. D. M. Spence dan Joseph S. Exell. Peabody, Massachusets: Hendrickson Publisher, n.d.

Baker, David L.  Mari Mengenal Perjanjia Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Cundall, Arthur E.  dan Moris, Leon. Tyandale Old Testament Commentary: Judges. Downers Grove: InterVarsity, 1968.

Linsey, F. Duane. Judges dalam The Bible Knowledge Commentary:  Old Testament ed. John F. Warvood dan  Roy B. Zuck. Colorado Springs, CO: David C. Cook, 1983.

Philips, W. Gary. Holman Old Testament Commentary: Judges. ed. Max Anders. Nasville, Tennesse: Broadman & Holman Publisher

Schneider, Tammi J.  Judges dalam Studies in Hebrew Narrative and Poetry ed. David W. Cotter  (Collegeville, Minnesota: The Order of  St. Benedict, Inc., 2000

Wiersbe, Warren W. The Wiersbe Bible Commentary: The Complete Old Testament. Colorado Springs, CO: David C. Cook, 2007.


[1] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjia Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 59.
[2] W. Gary Philips, Holman Old Testament Commentary: Judges , ed. Max Anders(Nasville, Tennesse: Broadman & Holman Publisher), 12.
[3] Tammi J. Schneider, Judges dalam Studies in Hebrew Narrative and Poetry ed. David W. Cotter  (Collegeville, Minnesota: The Order of  St. Benedict, Inc., 2000), 25.
[4] W. Gary Philips, Holman Old Testament Commentary: Judges, Hal 42
[5] Ibid., hal 43
[6] Ibid., Hal 44
[7] Judges and Ruth, Arthur E. Cundall dan Leon Moris, Tyandale Old Testament Commentary: Judges, (Downers Grove: InterVarsity, 1968), 68.
[8] W. Gary Philips, Holman Old Testament Commentary: Judges , 44.
[9] Warren W. Wiersbe, The Wiersbe Bible Commentary: The Complete Old Testament (Colorado Springs, CO: David C. Cook, 2007), 431.
[10] W.L. Alexander, The Book of Judges dalam The Pulpit Commentary ed. H. D. M. Spence dan Joseph S. Exell (Peabody, Massachusets: Hendrickson Publisher, n.d), 24.
[11] Wiersbe, The Wiersbe Bible Commentary: The Complete Old Testament, 431.
[12] F. Duane Linsey, Judges dalam The Bible Knowledge Commentary:  Old Testament ed. John F. Warvood dan  Roy B. Zuck, (Colorado Springs, CO: David C. Cook, 1983), 384.